Kamis, 07 Januari 2016

Bertemu Malaikat yang Menyamar Sebagai Manusia di Teras Masjid Nabawi

Terdengar suara pramugari yang mengatakan bahwa beberapa saat lagi pesawat akan mendarat di landasan yang dituju. Tapi tidak seperti biasanya pesawat tenang bila memasuki detik-detik pendaratan. Ini rasanya masih terombang ambing di udara. Pesawat oleng ke kanan dan ke kiri seperti ditiup angin. Di kiri kanan dari jendela pesawat kelihatan bukit-bukit batu. Pesawat solah-olah terbang di sebuah lorong lurus yang di pingir-pinggirnya dijejali jurang dan lembah batu yang terjal.


Alhamdulillah ... setelah sempat tegang dan dirundung rasa takut pada detik-detik landing tsb, pesawat sore itu mendarat dengan mulus. Tak terasa badan berguncang, bibir bergetar,  air mata meleleh. Ya ALLAH ... .. akhirnya engkau takdirkan aku untuk memenuhi panggilan-Mu. Labbaika Allahumma Labbaik. Labbaika Laa Syariikalaka Labbaik ....

Selamat Datang di Bumi Rasulullah  Madinah City Al-Munawwarah.

Singkat cerita dengan menumpang bus jamaah menuju hotel  tempat menginap selama di Madinah dalam rangkaian Ibadah Umroh kami bulan Februari 2015 yang lalu.. Sesampai di hotel kami ditempatkan dalam satu kamar dengan 4 tempat tidur. Waktu sudah menunjukkan lewat maghrib, langsung saja kami semua mandi dan bersih-bersih setelah menempuh perjalanan lebih kurang 18 jam dari tanah air dengan transit selama 6 jam di Doha,  Qatar.

Semua kami sepertinya tak sabaran, setelah makan kami bergegas ke Masjid Nabawi yang menara-menaranya kelihatan dari tempat hotel kami menginap. Ya ALLAH seolah tak percaya kami sudah berada di teras Masjid Nabawi yang berkilau cahaya pada malam itu. Subhaanallah .....

Selesai melaksanakan shalat Maghrib dan Isya dijamak (kami gak kebagian berjamaah karena sudah lewat waktu Isya) lalu disambung dengan dzikir dan tilawah. Dan tak lupa meneguk air zam-zam yang segar yang tersedia hampir di setiap penjuru masjid. Ketika keluar masjid kami agak direpotkan cari-cari sandal karena tadinya waktu menyimpannya tidak terlalu diingat di mana posisinya. Besok-besoknya sandal kami masukkan kantong kresek dan dimasukkan dalam tas pinggang.

Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 waktu Madinah. Di teras masjid ketika keluar mau pulang ke hotel suasana ramai sekali. Ada jamaah yang sedang melaksanakan shalat, ada yang tilawah, ada yang duduk-duduk berkelompok, ada yang rebahan, anak-anak berlarian . Jamaah silih berganti datang dan meninggalkan Masjid - benar-benar ramai sekali luar biasa. Dalam hati . . . kapan sepinya masjid ini ya ....???

Tiba-tiba begitu mau sampai di pintu gerbang keluar masjid kami disamperi seorang lelaki yang
mendorong kereta dorong dengan ada seorang anak di dalamnya dan diikuti oleh seorang wanita yng mungkin itu istrinya. " Assalamu'alaikum Muslim brother", kata lelaki tsb. Kami kaget. " Wa'laikum salam", saya menjawab. " Can you speak English", lanjutnya...... Wow.  ada apa nih. Saya jawab Yes, I can. Lalu lelaki itu berbicara panjang lebar dengan tangan digerak-gerakkan dan mimik muka yang berubah-ubah.

Dia bercerita yang artinya kira-kira begini, " Aduh malang nasib saya. Saya baru kehilangan tas koper yang berisi pakaian, uang, paspor dan perlengkapan .lainnya. Kami sudah tidak punya uang lagi. Yang tersisa hanya baju yang melekat di badan dan anak dalam kereta dorong ini. Kasihanilah kami. kami butuh uang untuk melanjutkan perjalanan kami. "Please give us your money. Help me ... "

Semua kami terbengong. Saya apalagi, benar-benar bengong. Dalam hati ini ujian pertama begitu berada di tanah suci. Dia minta sedekah berapa saja katanya. Dia sepertinya tahu kami dari Indonesia. Dia berkata lagi pakai uang Indonesiapun tidak apa-apa, Rupiah oke katanya. . Saya dalam hati berpikir, " ... jangan-jangan ini malaikat yang menyamar sebagai manusia ... ". Kamipun  merogoh dompet masing-masing yang disimpan dalam tas pinggang. Ada yang memberi 5 Riyal, 10 Riyal ( 1 Riyal = Rp. 3500). Saya karena tidak punya uang Saudi dan hanya punya rupiah ikut bersedekah juga. tapi ya itu gede banget  ....  hi..hi... Rp. 100 ribu. Habis di dompet gak ada receh, hanya berjejer uang seratus ribu rupiah only Tapi ya gapapalah.. . . .  Mana tahu ini benar Malaikat yang menyamar. Rp 100ribu tak ada artinya.
(Saya tidak tukar uang Riyal karena sebelum berangkat ada info bahwa uang Rupiah juga laku di Makkah dan Madinah, jadi gak usah repot ke money changer dan ternyata memang benar. Rp. 100rb waktu itu dihargai antara 28 s/d 29 Riyal oleh para Pedagang)..

Besok sehabis shalat subuh dan sarapan di hotel saya menceritakn peristiwa tsb kepada isteri. Isteri saya kaget, " saya juga didatangi orang seperti itu",  katanya. "Orangnya laki-laki mengaku dari Pakistan mendorong kereta bayi dengan seorang isteri". " Jangan-jangan itu Malaikat yang menyamar sebagai manusia untuk menguji keimanan kita", kata isteri, persis seperti yang saya pikirkan.

Waktu berlalu kami kembali ke tanah air beraktifitas seperti biasa. Suatu pagi saya ketemu seorang teman lama. Dia menanyakan bagaimana pengalaman Umroh yang baru saya jalani. Cerita sana-sini, saya menceritakan cerita  diminta uang oleh orang yang mengaku habis lehilangan barang seperti cerita di atas.

"Ha ... ha... ha....." Teman saua tertawa. Dia menceritakan bahwa 4 tahun yang lalu ketika naik haji peristiwa persis seperti yang saya alami dia rasakan juga. Yaitu orang yang mengaku-ngaku kehilangan tas koper dan minta uang untuk melanjutkan perjalanan. Dan umumnya sasarannya orang Indonesia, karena memang dikenal orang Indonesia ringan tangan untuk merogeh dompet memberi bantuan uang.


Olala . . . . jadi itu bukan Malaikat, berarti  penipuan dunk . . . !

Mudah-mudahan saja persangkaan kita salah. mana tahu itu memang  benar Malaikat yang menyamar
sebagai manusia. Tapi kalau memang itu penipuan ...... ya Semoga ALLAH menilai niat baik kita untuk membantu saudara muslimnya.  Dan Penipunya diberi hidayah untuk tidak melakukan modus itu lagi.

Cibitung, 27 Rabiul Awwal 1437 H - 07 Januari 2016.
Abuizzat