Sabtu, 22 Oktober 2011

Abu Bakar yang Tak Mau Kalah dalam Beramal


Sore itu saya buru-buru pulang ke rumah setelah usai jam kerja. " Pokoknya hari ini Tenggo – jam berdenteng  langsung  go – pulang. Alhamdulillah ketika pulang di jalanan lancar dan tidak macet, sehingga rencana untuk hadir taklim rutin ba’da Isya di Mushalla dapat terkejar.

Dalam salah satu bagian ceramahnya Sang Ustadz menceritakan perihal Sahabat yang mulia, Abu Bakar RA. Ceritanya kira-kira seperti di bawah ini.

 Suatu hari tak lama sepeninggal wafatnya Rasulullah SAW, Sahabat yang mulia Abu Bakar RA bertanya kepada anaknya Aisyah – yang lain tak bukan adalah isteri Nabi SAW.

“Wahai anakku Aisyah, katakanlah kepadaku apakah ada amalan Rasulullah SAW yang belum aku kerjakan ?”

“Tidak ada wahai ayahku, semuanya sudah engkau kerjakan”, jawab Aisyah.

Abu Bakar tidak puas mendengar jawaban dari Aisyah tersebut, dan kembali bertanya :

“Wahai anakku, katakanlah kepadaku  amalan apa yang Rasulullah SAW kerjakan, tapi aku belum pernah melaksanakannya”.

Kembali Aisyah RA, menjawab: “Semua sudah engkau amalkan,  wahai Ayahku”.

“Coba kamu ingat-ingat mungkin ada amalan Rasulullah SAW  yang aku belum pernah mengerjakannya”.

Barulah pada pertanyaan yang ketiga kalinya ini Aisyah menjawab: “Ada ya  Ayahku . . . , amalan Rasulullah yang engkau belum kerjakan”

Abu Bakar dengan semangatnya mengejar. “Amalan apakah itu wahai anakku . . .? “

“Yaitu pada setiap pagi Rasulullah SAW pergi ke sudut pasar dan menyuapi seorang pengemis buta”. Jelas Aisyah.

Subhaanallaah . . . .

Abu Bakar kaget dan terhenyak.

“Kalau begitu besok aku akan melakukan hal yang sama dengan perbuatan Rasul SAW tsb”, kata Abu Bakar berlalu.

Keesokan harinya  di waktu pagi Abu Bakar bergegas ke sudut pasar dan mencari pengemis buta yang diceritakan Aisyah. Lalu serta merta dia menyuapi pengemis tersebut.

“Siapa engkau”, hardik pengemis ketika menerima suapan pertama dari Abu Bakar.

Aku adalah orang yang biasa menyuapimu setiap hari di sudut pasar ini”, Abu Bakar coba menjawab.

“Bohong . . . !!  kamu bukanlah orang yang biasa menyuapiku” sergah pengemis buta itu.

“Orang yang biasa menyuapiku itu dia melakukannya dengan lemah lembut dan terlebih dulu makanannya dihaluskan, sehingga aku mudah menelannya”.

Air mata Abu Bakar berlinang.

Wahai Rasul, sungguh akhlakmu mulia tiada bandingannya. Sehingga seorang pengemis Yahudi yang buta di sudut pasar bisa membedakan dan merasakan kehalusan dan kesantunan akhlakmu.

“Siapa orang yang biasa menyuapiku”, pengemis buta bertanya kepada Abu Bakar.

“Beliau adalah Muhammad Rasulullah SAW, orang yang selalu kamu caci setiap hari. Sekarang Beliau telah tiada”, jelas Abu Bakar.

Demikianlah kurang lebih salah satu episode dari sejarah hidup Rasulullah SAW.

Apa hikmah yang bisa kita ambil ?.

Salah satunya adalah kegigihan seorang Abu Bakar RA sebagai seorang sahabat Nabi SAW  yang walaupun sudah dijamin masuk surga – tapi selalu merasa kurang dalam beramal dan berusaha untuk senantiasa melaksanakan sunnah Rasul.

Hikmah lainnya yaitu ketinggian akhlak Rasul SAW, walaupun dia dicaci setiap hari oleh seorang Pengemis buta Yahudi, tapi Beliau tetap berbuat baik dan menunjukkan akhlak yang superr.

Subhaanallaah . . . . .

Bagaimana dengan kita . . . .  ???




Illustrasi : from boyriesdanu.blogspot.com



Cibitung, 22 Oktober 2011 - 24 Dzulqa’dah 1432 H.

Abuizzat