Sabtu, 29 Oktober 2011

Gelar Haji


“Ass. Pak, itu ustadnya pakai titel Haji atau gak . . . . lalu belakang namanya  LC kan.”,  tanya  Bu Panitia ke saya lewat SMS. Saya jawab, “Wass. ww. Bu, kayanya gak pakai titiel Haji deh. Soalnya saya belum pernah liat namanya di spanduk, di brosur pakai H.”. “ ya udah, tapi belakangnya LC kan Pak”, SMS Bu Panitia lagi ke saya.
“Kurang tahu Bu kalau, LC, tulis namanya aja, takut salah”, jawab saya. Itulah sepenggal kesibukan Bu Panitia pada saat mau konsep undangan. Dia perlu memastikan dulu, penceramah yang diundang bertitel H/ Haji, atau tidak. Lalu belakang namanya ada title juga atau tidak. Dan Kebetulan penceramah yang diundang, saya yang mengusulkan waktu itu, yaitu Direktur Pesantren  di mana tempat  2 orang anak saya mondok saat ini.

Bu Panitia takut salah, makanya mastikan dulu. Khawatir orang bergelar H/Haji, ntar kalau gak ditulis, takut diprotes. Lagi pula supaya acara kelihatan  sedikit berbobot Bu Panitia berharap, penceramah yang diundang ini nama depannya ada gelar H/Haji, kan lebih keren – tambah lagi belakangnya LC. Ada nilai jual ke jamaah untuk datang nantinya dalam acara tabligh akbar.

Akhirnya undanganpun jadi, dan sudah dibagi-bagi ke seluruh warga se RW.Tertulis di undangan Penceramah namanya tidak bergelar apa-apa – baik di depan atau belakang namanya. Tidak ada tertulis KH, atau H. di depan namanya, tidak juga LC atau MM dibelakangnya.. “Penceramahnya gak berbobot, gak  bertitel, belum Haji, kurang afdhol”, begitu kali kira2 gumam orang-orang pada saat menerima undangan - pikiranku menerawang.

Waktu berlalu . . . . .
Kira-kira 3 pekan kemudian setelah acara dimaksud di atas berlangsung saya ke Pesantren jenguk anak - kegiatan rutin pekanan.  Kebetulan sekali saya ketemu Pak Direktur Pesantren yang  3 pekan lalu kami undang ke Mushalla kami. Saya penasaran perihal undangan dulu, dimana Bu Panitia SMS nanyain apa ditulis Haji atau tidak untuk nama penceramahnya.

Setelah basa-basa dikit, saya gak tahan untuk bertanya ke Pak Direktur Pesantren. Dalam hati saya pastilah dia sudah Haji. Masa sih sudah mapan begini, sudah punya ilmu agama yang luas, sudah berceramah sebagai Ustadz ke-mana-mana – tapi belum Haji. “Gak Mungkin,”, saya membatin. Tapi bisa jadi belum  Haji, habis gak pernah ditulis H/Haji di depan namanya, baik di pengumuman sekolah, di brosur, spanduk, dsb.

Saya : “Pak, mohon maaf nih, mau tanya”.

Pak Direktuir Pesantren (DP) : “Silahkan, mau tanya apa” .

Saya : Bapak sudah Haji  - belum ?

DP : Mang kenapa Pak.

Saya : Gak sih Pak, dulu waktu kami undang Bapak, panitia bingung mau tulis Haji atau tidak di depan nama Bapak.

DP : oh… ha … ha,  begitu . . .? Pak Dirtektur tertawa geli.

Lalu Pak Direktur Pesantren melanjutkan jawabannya.

DP : Kalau kita lihat Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya adalah para Haji semua. Tapi gak pernah tuh kita dengar disebut misalnya Haji Abu Bakar Siddiq. Atau juga kita gak pernah dengar Haji Umar bin Khatab. Haji Salman Al-Farisi, dsb.

Saya : Ya… ya… benar Pak..

DP : Biasanya hanya orang-orang kita, dan sebagian orang Asia, disandangkan gelar Haji di depan namanya.

Saya : Jadi Kalau begitu Bapak sudah Haji . . .?

DP : Ya, Alhamdulillah sudah.

Barulah terjawab pertanyaan selama ini. Ternyata Bapak Direktur Pesantren itu sudah Haji, bahkan beliau itu kuliah S1-nya di Madinah. Subhaanallah.
Tapi beliau tak mau direpotkan dan tak mau pusing dengan gelar Hajinya, karena memang Rasul SAW dan para sahabatnya mencontohkan demikian.

Dan bagi para Bapak Haji dan Ibu Hajjahpun, sebenarnya gak salah juaa bila mencantumkan gelar H./Haji/ Hj./ Hajjah  tersebut di depan namanya. Sah-sah saja. Mudah-mudahan saja dengan tambahan gelar Haji dan Hajjah tersebut mereka akan bisa lebih banyak beramal dan lebih menjaga dirinya dari perbuatan maksiat.

Selamat menunaikan Ibadah Haji kepada saudara-saudara kami yang diberi kesempatan oleh ALLAH untuk menunaikan Ibadah Haji pada tahun ini. Semoga jadi Haji yang mabrur.

Dan do’akan kami, dan mari kita juga berdo’a dan berusaha, mudah-mudah ALLAH SWT memberi undangannya bagi kita untuk bisa pula melaksanakan Ibadah Haji di sisa usia kita mendatang. Aamiin..

Labbaik Allaahumma Labbaik . . . . . .

Cibitung, 02 Dzulhijjah 1432 H. 29 Oktober 2011

Abuizzat