Minggu, 18 Maret 2012

Mengapa & Kenapa Harus Sekolah Islam . . . ?


Tahun Pelajaran Baru 2012-2013 Insya ALLAH sebentar lagi akan datang. Dari sekarang bahkan beberapa bulan sebelumnya kita para orang tua sudah sibuk mempersiapkan diri untuk anak-anak kita mencarikan sekolah yang akan dimasuki. Mulai dari SD, SMP sampai SMU/SMK, dan tak lupa tentunya juga untuk kelas Kelompok Bermain (KB)/ Play Group/ PAUD dan TK untuk anak balita kita.


Ada beberapa faktor yang menentukan pilihan kita terhadap sekolah, seperti jarak tempuh, kondisi bangunan, latar belakang, biaya, prestasi yang dicapai, fasilitas, dsb, dsb. Dan tentunya kita akan memilih yang terbaik untuk anak kita.

Orang tua yang bertanggung-jawab tentu tidak akan sembarangan dalam memilihkan sekolah untuk anaknya. Mereka pasti akan melihat dulu visi-misi sekolah, tujuan dan nilai, serta target yang ingin dicapai oleh sekolah untuk anak didiknya. Dan orang tua kira-kira bisa membayangkan akan jadi apa anaknya setelah lulus dari sekolah tersebut. Hal ini sangatlah penting karena pilihan sekolah di awal tentunya banyak atau sedikitnya  akan mewarnai dan menentukan masa depan anak di kemudian hari. Orang tua yang baik tentu ingin anaknya menjadi orang yang bahagia di dunia dan bahagia di akhirat. Menjadi hamba ALLAH yang bermanfaat bagi lingkungannya dan hamba ALLAH yang dimasukkan dalam Jannah-Nya.

Rasulullah SAW mengingatkan kita, “Setiap anak di lahirkan dalam keadaan fitrah, dan orang tuanyalah yang menjadikannya nasrani, yahudi dan atau majusi”.  Jadi bagaimana masa depan anak kita ada di tangan orang tuanya masing-masing. Jika kita ingin berinvestasi, maka sebaik-baik investasi adalah untuk anak kita dengan memberikannya pendidikan yang terbaik sejauh yang kita mampu agar mereka kelak anak-anak kita tersebut menjadi hamba ALLAH yang bahagia di du nia, bahagia di akhirat.

Berikut kami tampilkan beberapa postingan yang penulis sebutkan sumbernya. Semoga tulisan dari postingan  tersebut bisa memberi kita arahan mengapa dan kenapa kita harus memilihkan sekolah ISLAM untuk anak- anak kita.


Selamat Membaca . . . .

Cibitung, 25 Rabilu Akhir 1433 H/ 18 Maret 2012

Abuizzat


Selamat mengikuti :

1.      Judul : Kenapa Harus Sekolah Favorit?

Menjelang pergantian tahun ajaran baru, biasanya sekolah akan sibuk berlomba menjaring murid baru. Orang tua pun disergap kekhawatiran klasik, takut kalau anaknya tidak diterima di sekolah favorit. Kekhawatiran yang sangat dipengaruhi oleh niat, “kenapa kita harus mengirimkan anak bersekolah?” Niat yang salah akan mengantarkan pada amal yang salah pula. Misalnya, kalau tidak diterima di sekolah terbaik, tak jarang anak histeris dan orang tuanya marah-marah.

Untuk berniat yang baik setiap Muslim diingatkan oleh Rosulullah saw,
“barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan untuknya jalan menuju surga.” (HR Muslim)

Niatan Menyekolahkan Anak

Maka niat atau motivasi menyekolahkan anak seharusnya adalah untuk menjadikan mereka orang yang beriman dan bertaqwa dengan ilmu. Karena tidaklah masuk ke dalam surga kecuali orang yang beriman dan bertaqwa, dan amatlah sukar bagi orang untuk bertaqwa apabila tidak memiliki ilmu.
Misalnya, mungkinkah seseorang sabar dengan musibah apabila dia tidak mengetahui bahwa hal tersebut terjadi atas seizin Allah? Bagaimana bisa orang taat menegakkan sholat bila tidak pernah diajari sholat? Apakah seseorang mau menegakkan syariat Islam kalau tidak mengetahui apa saja manfaatnya dan apa yang mewajibkannya?

Maka bila orang tua berniat lurus, kita akan memilih sekolah yang mampu menjadikan anak beriman dan bertaqwa, menjadi sholih, dan berakhlak qurani.


Namun berkebalikan dari niat yang lurus di atas, ada orang tua yang menyekolahkan anaknya untuk alasan duniawi. Misalnya ingin anaknya mendapat kemampuan berbahasa asing sejak dini dengan memilihkan sekolah-sekolah kesohor meskipun sekuler, alias tidak memperhatikan akhlak. Bahkan saking silaunya dengan sekolah favorit sampai-sampai ada yang rela menjebloskan anaknya ke sekolah non-Muslim. Terhadap orang tua seperti ini perlu kita dekati untuk menyadarkan kembali pentingnya menjaga aqidah agar kelak tidak menyesal di akhirat.

Ada lagi yang asal menyekolahkan anak, memilihkan yang negeri semata-mata karena murah, apalagi bila tanpa diimbangi pendidikan yang islami di rumah. Orang tua yang pasrah bongkokan pada sekolah. Kalau anak sudah bisa berseragam, mengerjakan PR, pulang dan pergi dari sekolah dengan selamat, dianggap tugas orang tua sudah beres. Kewajiban mendidik tidak boleh dilemparkan pada guru, melainkan harus diimbangi oleh orang tua sendiri.

Tentu tidak ada salahnya mengirimkan anak ke sekolah negeri karena alasan biaya. Namun karena pendidikan agamanya minim, maka orang tua wajib menambah “jam pelajaran” agama ekstra, di luar sekolah. Misalnya dengan mengajaknya mengaji bersama keluarga atau memberangkatkannya ke TPQ yang terorganisasi baik. Adanya tambahan pelajaran agama ini adalah wujud niat orang tua menjadikan anaknya sholih. Sebab bila orang tua tidak berniat demikian, tidak akan bersusah-payah menambah kesibukan di rumah.

Yang perlu digarisbawahi, sekolah bukanlah pengganti orang tua, bukan pula tempat penitipan anak. Sekolah adalah cara orang tua menunaikan kewajiban mendidik anak secara ma’ruf (baik). Kewajiban tetaplah berada di pundak orang tua.
==================================================


2.      Judul : Mengapa Harus Sekolah Agama? By Sayed Muhammad Husen


Abu Muhammad, seorang da'i murni.Tak ada pekerjaan lain yang ditekuninya, kecuali berdakwah dan mengasuh pengajian. Hampir seluruh waktunya didedikasikan untuk meninggikan Islam dan agama Islam. Hidupnya sederhana, dengan enam orang putra putri. Pernah belajar di pergururuan tinggi Islam. Isterinya seorang muslimah sejati. “Saya berkeyakinan, dengan dakwah dan pendidikan kita bisa bangun peradaban Islam,” katanya.

Dalam suatu kesempatan diskusi
dengannya, saya menanyakan, “Mengapa anak-anak kita harus sekolah agama?”
Pertanyaan ini menjadi relevan mengingat masyarakat kita sedang merencanakan
pendidikan anak tahun ajaran baru 2011/2012.

“Karena tak ada pilihan lain. Jika ada pilihan lain, saya tak akan merekomendir
sekolah agama.” “Apakah pendidikan agama yang ada sekarang, seperti
Raudhataul Athfal, MIN, MTsN, MAN dan IAIN masih belum sesuai dengan
filosofi pendidikan Islam?” “Pendidikan Islam harus berdasar ajaran tauhid. Pendididikan harus mampu mengantarkan peserta didik dan alumninya mentauhidkan Allah SWT,
me n t a a t i s y a r i a t I s l am d a n - mendakwahkannya. Mereka juga tak anti
jihad.

Nah lihat saja alumni yang katanya sekolah agama (yang dari DEPAG – red) sekarang ini. Masih banyak di antara mereka yang tak shalat lima waktu.”“Bukankah jika mereka masuk
pendidikan umum lebih celaka lagi?” “Itu memang pendidikan sekuler, yang memilah antara pendidikan dengan agama. Jangan-jangan pendidikan seperti ini. melahirkan generasi anti syariat, koruptor dan merusak tatanan kehidupan.”

“Abu, tentu, kita tak bisa membiarkan ummat dalam kebingungan, sulit dalam merencanakan pilihan pendidikan anakanak mereka?”

“Di antara yang buruk, sekarang mulai tumbuh lembaga pendidikan yang lebih dekat dengan sistem Islam seperti TKIT, SDIT, SMPIT, (SMAIT, SMKIT – red) Dayah Terpadu, Dayah Tahfidh dan beberapa Ma'had Prosunnah.”

“Tapi apakah bisa menjawab masalahmasalah yang ada, seperti kemampuan alumni bersaing memasuki dunia kerja atau memilih sekolah lanjutan yang lebih
b e r k u a l i t a s ? ” “ Tak selamanya kita harus mengukur masa depan anak dengan perolehan rezeki secara rasional. Allah Maha Kuasa dalam memberi rezeki. Rezeki tak hanya di dapat dari profesi PNS atau menjadi saudagar kaya tak harus lewat pendidikan berkualitas.”

“Tapi, bukankah dengan ramai-ramai memilih pendidikan agama, nanti alumninya
akan bersesakan memperebutkan aktivitas bidang agama sebagai karier?” “Pertanyaan anda juga patut dikoreksi.”

“Lihat saja ribuan alumni dayah di Aceh, apakah telah membuat mereka tak bekerja?
Tidak. Semua alumni dayah tertampung dalam masyarakat. Tak semua mereka menjadi ulama, mengajar atau mendirikan dayah baru.

Sebagian besar mereka malah bekerja dengan profesi masing-masing. Jadi tak perlu khawatir masuk sekolah agama.”

Abu Muhammad telah menunjukkan komitmen yang tinggi dalam memilih dan mendukung pendidikan agama, lalu,

bagimana dengan anda? Empat anaknya belajar di sekolah agama dan ma'had tahfidz.
Saya yakin, anda juga akan memilih sekolah agama. Saya pun satu barisan dengan anda.
Anak saya masih belajar di PAUD Jiilul Islam, di bawah asuhan 'Aisyiyah Aceh Besar.

  = ====================================================================
3.      Judul : Mengapa Harus Sekolah Islam



Setiap anak di lahirkan dalam keadaan fitrah, dan orang tuanyalah yang menjadikannya nasrani, yahudi dan atau majusi”
Hadits di atas telah menjelaskan kepada kita semuanya bahwa anak kita sudah terlahir dalama keadaan fitrah, dan agama yang fitrah itu adalah islam yang jika kita melaksanakan ajarannya secara menyeluruh, maka seluruh problematika kehidupan akan terselesaikan dengan baik.

Kita sebagai orang tua mestinya tahu betul dan tentunya sangat mengidamkan generai penerus kita nani adalah generasi yang dapat menjadi hamba Allah yang baik dan bermanfaat untuk kepentingan rang banyak. Oleh sebab itu di dalam memberikan pendidikan, hendaknya orang tua harus selektif dalam memilihnya, jangan sampai anak kita nanti anya pandai saja, mereka hanya sukses secara materi saja. Namun lebih daripada itu,alangkah indahnya jika kita melihat anak kita sukses baik secara materi maupun immaterinya( akhlaqnya mulia ).

Berpangkal dari sinilah bahwa menyekolahkan anak di sekolah islam menjadi sebuah keniscayaan bagi orang tua yang menginginkan anaknya menjadi Qurrrata a'yun, bermanfaat bagi sesamanya. Abu Alif

======================================================================

4.      Judul : MENGAPA HARUS PENDIDIKAN ISLAM?

 “Pendidikan Islam dikatakan sesuai dengan kemanusiaan hebat, karena pendidikan Islam memandang manusia secara kaffah." (Prof.DR.H. Muhtarom HM dalam Ahmad Ludjito, dkk. 2010: 285)

Yang dimaksud pendidikan Islam adalah konsep Islam dalam pendidikan, bukan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Karenanya berbicara pendidikan Islam pada hakekatnya berbicara tentang konsep pendidikan atas segala mata pelajaran dan segala kegiatan yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan ditinjau dari pandangan dan konsepsi Islam.

Dalam pendidikan harus memandang manusia secara integral (kaffah). Menurut Prof.DR.H. Muhtarom HM dalam Ahmad Ludjito, dkk. 2010: 285, dikatakan, “Pendidikan Islam dikatakan sesuai dengan kemanusiaan hebat, karena pendidikan Islam memandang manusia secara kaffah." Menurutnya  "Proses pendidikan Islam harus mencakup aspek ta'lim dan ta'dib, yaitu yang menyangkut transfer ilmu dan keterampilan untuk memenuhi hajat hidup, dan yang menyangkut aspek beradab atau berbudi pekerti baik."  (Prof.DR.H. Muhtarom HM dalam Ahmad Ludjito, dkk. 2010: 267).

Perlu dipahami pula bahwa pendidikan merupakan proses pembudayaan, karenanya pendidikan harus menghasilkan manusia yang memiliki budaya yang relevan dengan tuntutan masyarakat dan tuntutan zaman. Dalam konteks ini budaya yang dimaksud yang ideal adalah harus sesuai dengan fitroh manusia, dengan demikian pasti akan menjunjung nilai kemanusiaannya. Akan tetapi seiring dengan perkembangan informasi dan teknologi tidak pungkiri akan berdampak pada pengaruh yang menjatuhkan nilai kemanusiaan. "Proses sekulerisasi pada kebudayaan materiil, gaya hidup dan nilai-nilai yang dibawa oleh medium-medium produk kemajuan teknologi komunikasi akan memunculkan mass-culture dengan segala konsekuensi lanjutannya." (Azyumardi Azra dalam Ahmad Ludjito, dkk. 2010:273). 

Untuk dalam konsep pendidikan Islam harus berupaya mengangkat martabat manusia dalam derajat yang mulia. Untuk itu dalam kancah seperti dewasa ini, "Pendidikan Islam kiranya dapat mempunyai kekuatan menjadicounter budaya dan sebagai respons terhadap mass culture dengan kembali memperkokoh tradisi Islam di kalangan peserta didik muda dan anak-anak usia dini."(Prof.DR.H. Muhtarom HM dalam Ahmad Ludjito, dkk. 2010: 273).

Pendidikan Islam  harus dapat  mengimplementasikan konsep pendidikan Islam secara utuh. Pendidikan dalam bahasa Arab disebut “tarbiyah”. Tarbiyah berasal dari kata roba-yarbu yang berarti penambahan, pertumbuhan, pemeliharaan, dan penjagaan. Adapun menurut istilah, pendidikan diartikan sebagaimana pendapat beberapa ulama berikut: 

(1) Al-Qadhi Al-Baidhowi mengartikan pendidikan (tarbiyah) sebagai “membawa sesuatu ke arah kesempurnaan secara bertahap”; 
(2) Ibnu Sina mengartikantarbiyah sebagai pembiasaan, yaitu melakukan sesuatu berulang-ulang dalam masa yang lama dan dalam waktu yang berdekatan;
 (3) Rif’ah Rafi’ Ath-Thathwi mendefinisikan pendidikan sebagai usaha mengembangkan jasmani dan jiwa anak didik semenjak lahir sampai tua dengan pengetahuan agama dan dunia. 

Sedangkan   DR. Miqdad Yaljan mengklasifikasi pendidikan Islam (tarbiyah Islamiyah) sebagai berikut: 

(1) kurikulum materi-materi keislaman di sekolah atau madrasah, 
(2) sejarah pendidikan, sejarah lembaga pendidikan atau sejarah tokoh-tokoh pendidikan di negara Islam, 
(3) pengajaran ilmu-ilmu keislaman, dan 
(4) sistem pendidikan integral yang diambil dari arahan dan ajaran Islam yang murni, serta berbeda dengan pendidikan lain baik Barat maupun Timur. 

Sedangkan Prof. DR. Abdul Gani Abud berpendapat bahwa pendidikan Islam yang kita inginkan adalah sebagaimana pendidikan yang ideal dan sebagaimana seharusnya, yakni pendidikan Islam yang tujuan dan dasar-dasarnya berdasarkan ruh Islam yang dituangkan Allah dalam Al Qur’an dan dicontohkan Rasul dan hadits. 

Jadi pendidikan yang kita inginkan adalah pendidikan yang berada dalam lapangan kehidupan yang penuh suasana yang islami seperti yang digariskan dalam Al Qur’an dan hadits Rasulullah SAW. Pertumbuhan anak-anak muslim berada dalam suasana khusus ini. (Sukro Muhab 2010:6)